MENJAGA RUANG DIGITAL TETAP BERNAS: KETIKA LITERASI MENGAJAK KITA MENEBAR KEBAIKAN, BUKAN MEMADAMKAN HARAPAN

Opini 09 Oct 2026 07:57 • 3 min read • 111 views • By Yohanes Kian Nunang/ Pendiri Pondok Baca Kampung Kabor

Share berita ini

MENJAGA RUANG DIGITAL TETAP BERNAS: KETIKA LITERASI MENGAJAK KITA MENEBAR KEBAIKAN, BUKAN MEMADAMKAN HARAPAN
"Ruang Digital Sebagai Alun-Alun Modern"

 

 

Di era digital saat ini, gawai di tangan kita bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sebuah ruang publik digital. Grup WhatsApp, Facebook, dan berbagai platform media sosial lainnya telah menjadi alun-alun modern tempat kita berhimpun, bertukar kabar, dan merajut kolaborasi. Bagi komunitas literasi seperti Pondok Baca Kampung Kabor, ruang-ruang digital ini memegang peran yang sangat strategis. Dari ruang-ruang percakapan inilah informasi tentang akses buku gratis, peluang belajar, hingga gerakan pemberdayaan generasi muda dapat disebarluaskan dengan cepat kepada siapa saja yang membutuhkan.

 

Sebab, esensi utama dari sebuah grup atau komunitas digital adalah wadah untuk berbagi hal baik, menyebarkan informasi positif yang membangun, serta menginspirasi sesama, khususnya bagi masa depan generasi muda kita. Selama sebuah informasi tidak mengandung unsur hoaks, ujaran kebencian, rasisme, radikalisme, atau hal-hal negatif yang merusak tatanan sosial, maka niat untuk berbagi kebaikan seperti membagikan akses ilmu pengetahuan dan buku selayaknya disambut dengan tangan terbuka, bukan justru diberangus secara sepihak.

 

*Menghadapi "Ilalang" di Tengah Suburnya Kebaikan*

 

Namun, dalam perjalanan menabur benih-benih positif, kita kerap kali dihadapkan pada realitas yang menguji kesabaran. Ibarat seorang petani yang tengah merawat sawah, ketika kita menanam padi dengan harapan menghasilkan bulir yang bernas, selalu saja ada ilalang atau gulma yang tumbuh di sela-selanya.

 

Ilalang-ilalang ini digambarkan oleh segelintir anggota grup yang berpikiran kerdil, mereka yang alih-alih ikut menyiram dan merawat kebaikan, justru memilih melontarkan narasi negatif sepihak untuk menjatuhkan sesama anggota. Karakter seperti ini biasanya didorong oleh ego sempit, ketidaksukaan personal, atau ketidaktahuan atas makna sejati dari kolaborasi sosial. Jika dibiarkan, narasi negatif ini bisa menjadi ilalang yang merebut nutrisi ruang publik, membuat suasana grup menjadi tidak sehat, dan menghambat pertumbuhan ide-ide bernas.

 

*Solusi dan Cara Melawan Narasi Negatif di Grup*

 

Lalu, bagaimana kita seharusnya bersikap menghadapi mentalitas "ilalang" di ruang digital? Berikut adalah beberapa langkah bijak yang dapat kita tempuh:

 

*1. Kembalikan pada Substansi dan Regulasi yang Jelas*

Jangan ragu untuk mengembalikan arah diskusi pada aturan dasar (regulasi) grup serta etika berjejaring. Jika tidak ada aturan administratif atau larangan resmi dari pengelola/admin yang dilanggar, maka klaim sepihak dari oknum tersebut tidak memiliki dasar hukum maupun etika yang sah.

 

*2. Jangan Terpancing untuk Membalas dengan Kebencian*

Menghadapi pemikiran kerdil dengan emosi hanya akan menurunkan standar kualitas diri kita. Tetaplah bernarasi dengan kepala dingin, berbasis data, fakta, dan niat tulus untuk kemaslahatan bersama. Biarlah karya dan rekam jejak pengabdian yang berbicara.

 

*3. Pilih Sikap Tegas: Menyingkir untuk Menyelamatkan Energi*

Seperti seorang petani yang mencabut atau memangkas ilalang agar padi bisa tumbuh subur, terkadang langkah terbaik adalah keluar dari lingkungan atau grup yang sudah tidak sehat. Energi positif kita jauh lebih berharga jika dicurahkan untuk hal-hal yang produktif, alih-alih meladeni perdebatan yang tidak substansial.

 

*4. Terus Menanam Kebaikan di Lahan yang Subur*

Jangan pernah berhenti berbagi hanya karena ada satu atau dua orang yang mencoba memadamkannya. Masih banyak ruang di luar sana, masih banyak hati yang terbuka, dan masih banyak generasi muda yang menanti uluran tangan serta inspirasi literasi.

 

Mari kita terus jaga ruang-ruang digital kita agar tetap bernas, penuh gagasan positif, dan bebas dari mentalitas sempit. Sebab padi yang bernas akan selalu merunduk dan memberikan manfaat, sementara ilalang pada akhirnya akan layu oleh niat tulus yang terus dirawat.

Radar Kelimutu
Chat with us on WhatsApp