IRONI LITERASI DI BUMI FLOBAMORA: Membangun Manusia Masih Kalah "Seksi" Dibanding Panggung Seremonial

Opini 27 Jul 2026 07:14 4 min read 147 views By Yohanes Kia Nunang, Pendiri Pondok Baca Kampung Kabor-Maumere

Share berita ini

IRONI LITERASI DI BUMI FLOBAMORA: Membangun Manusia Masih Kalah "Seksi" Dibanding Panggung Seremonial
Banyak Persoalan di Negara Ini dipicu dan dilatarbelakangi oleh oleh pertarungan politik level atas yang berdampak negatif pada situasi level grassroot.

 

Sore yang tenang di Pondok Baca Kampung Kabor sering kali diisi oleh suara riuh anak-anak mengeja kata, membalik halaman buku-buku sumbangan yang sebagian besar sudah mulai usang. Di ruang sederhana ini, kami tidak sedang meminta kemewahan. Kami hanya berjuang merajut asa, merawat nyala api membaca, dan membekali generasi masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan fondasi berpikir yang kokoh.

 

Namun, di balik senyum tulus anak-anak itu, ada satu pertanyaan yang terus berkelebat di kepala dan sering kali membuat dada terasa sesak: Mengapa kegiatan literasi begitu sulit sekali mendapatkan sponsor atau bantuan dana operasional?

Padahal, bukankah ini tentang investasi paling fundamental bagi sebuah peradaban? Ini tentang membangun Sumber Daya Manusia (SDM).

 

Proposal yang Berakhir di Tumpukan Meja

 

Berkali-kali, proposal demi proposal kami ajukan ke berbagai instansi, lembaga, maupun korporasi dengan harapan ada uluran tangan untuk sekadar membiayai operasional harian, menambah koleksi buku bacaan, atau memperbaiki atap yang bocor. Jawabannya hampir selalu seragam dan klise: "Mohon maaf, anggaran sedang tidak ada," atau "Belum ada pos untuk kegiatan literasi."

 

Kami memakluminya dengan senyum pahit. Kami pikir, ah, mungkin kas negara atau kas perusahaan memang sedang ketat.

Namun, rasa maklum itu mendadak berubah menjadi rasa kaget yang elus dada ketika melihat realitas di luar sana. Di sudut kota yang lain, sebuah turnamen olahraga atau panggung hiburan seremonial mendadak dihelat dengan meriah. Yang lebih mencengangkan, terpampang jelas deretan logo perusahaan besar dan sponsor bonafide dengan total kucuran dana mencapai ratusan juta rupiah, bahkan miliaran.

 

Di titik itu, logika kemanusiaan dan akal sehat kita diuji. Apakah dana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa benar-benar sudah habis terkuras, ataukah literasi sekadar dianggap sebagai kegiatan pinggiran yang tidak mendatangkan keuntungan instan?

 

Ketika Hiburan Lebih "Menjual" Daripada Masa Depan

 

Kegiatan literasi memang tidak bising. Ia tidak menghadirkan ribuan penonton yang bersorak di tribun, tidak disiarkan secara langsung di televisi nasional, dan tidak menyisakan panggung megah untuk sesi foto bersama para pejabat atau petinggi korporasi.

 

Literasi bekerja secara sunyi. Ia menanam benih di dalam kepala anak-anak, merombak cara pandang, dan membentuk karakter secara perlahan sebuah proses panjang yang buahnya baru bisa dipetik satu atau dua dekade kemudian. Barangkali, karena sifatnya yang jangka panjang inilah para pemegang modal kurang meliriknya. Sponsor kerap mencari panggung instan demi branding dan publisitas cepat, sementara sunyinya ruang baca dianggap tidak cukup seksi untuk mendongkrak citra.

 

Padahal, bukankah kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai persoalan sosial di NTT hanya bisa dipangkas akarnya jika kualitas SDM kita dibenahi terlebih dahulu? Bagaimana kita bisa bicara transformasi daerah jika fondasi literasi sebagai pintu utama ilmu pengetahuan dibiarkan merangkak sendirian tanpa sokongan yang layak?

 

"Membangun NTT dengan Sepenuh Hati"

 

Melihat kontras yang begitu tajam antara megahnya dana turnamen dan sunyinya sokongan untuk ruang baca, kami di Pondok Baca Kampung Kabor sering kali hanya bisa mengelus dada.

Lalu, apa yang bisa kami perbuat? Apakah harus menyerah pada keadaan? Tentu saja tidak. Kami sadar, menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apa pun. Sambil menarik napas panjang, kami hanya bisa berucap pelan dalam hati, mengulang sebuah slogan klasik yang kini terasa begitu ironis sekaligus penuh daya gugah: 

"Membangun NTT dengan sepenuh hati."

Kalimat ini bukan lagi sekadar slogan di atas kertas baliho atau sambutan seremonial pejabat. Bagi kami para pejuang literasi akar rumput, kalimat itu adalah sumpah sunyi. Jika negara dan para pemilik modal belum sepenuhnya melirik pentingnya membaca, maka kami akan tetap melangkah dengan sisa tenaga yang ada.

 

Sebab, masa depan anak-anak Kampung Kabor dan generasi NTT tidak boleh gadai hanya karena para pemegang kendali salah memetakan prioritas. Biarlah lilin-lilin kecil di pelosok kampung tetap menyala, meski harus diterpa angin kencang ketidakpedulian. Karena pada akhirnya, sejarah peradaban tidak pernah dicatat oleh seberapa meriah sebuah turnamen diselenggarakan, melainkan oleh seberapa banyak buku yang dibaca dan seberapa luas pikiran anak-anak bangsa dibebaskan.

Radar Kelimutu
Chat with us on WhatsApp